Novel yang menceritakan tentang perjalan hidup perempuan bernama firdaus dari sel penjaranya,tempat dia menunggu pelaksanaa hukuman matinya.Dia telah membunuh seorang laki-laki,germonya itu mengisahkan lika liku kehidupannya.sejak ia kecil sampai ia menjadi seorang pelacur kelas atas di kota kairo.tanpa rasa takut menghadapi hukuman gantungnya itu.Bahkan dengan tegas ia menolak grasi kepada presiden yang diususlkan oleh dokter penjara.Menurut firdaus,vonis itu justru merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.Ironis.
Beberapa penggalan dari kata-kata firdaua yang merupakan kritikan social yang dapat kita cermati!
“Betapun suksesnya seorang pelacur, dia tidak pernah dapat mengnal semua lelaki.Tetapi semua lelaki yang saya kenal, tiap orang di antara mereka, telah mengorbankan dalam diri saya hanya satu hasrat saja:untuik mengankat tangan saya dan menghantamkan ke muka mereka.Akan tetapi saya seorang perempuan,saya tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.Dan karena saya pelacur, saya sembunyikan rasa takut saya dibawah lapis-lapis solekan saya.”
“Lelaki revoluisioner yang berpegang pada prinsip sebenarnya tiodak banyak berebeda dari lelaki lainnya.Mereka mempergunakan kepintaran mereka denga menukarkan prinsip mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan uang.Revolusi bagi mereka tak ubahnya sebagai seks bagi kami.Sesuatu yang disalahgunakan,sesuatu yang dapat dijual.”
“Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki,dan bahwa lelaki menguasai duia dunia, yang di bumi dan yang di alam baka.Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri.Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk.Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas darupada seorang istri yang diperbudak”
Di Indonesia lelaki amat mudah mengatakan bahwa perempuan amat dipuja dan dihormati dalam kebudayaan bangsa Indonesia.Tidakkah kata perempuan itu sendiri berasal dari kata “empu” yang penuh dengan pengertian penuh kehormatan dan kesaktian?Akan tetapi tidakkah pula dalam prakteknya masih banyak perempuan Indonesia yang benar-benar hidup hanya untuk melayani dan mengabdi pada sang suami belaka?Di sebuah daerah NTT, perempuan atau istri yang baik menurt lelaki disana adalah perempuan yang senang bekerja dikebun.Yng tidak suka bergunjing ditetangga,yang menjaga agar rumah dan karangan selalu bersih,yang rajin mengambil air,yang rajin bangu pagi dan menyiapakn santapan pagi bagi suami dan anak-anaknya.Dan tidak sepatah kata menganai kesenangan dan hak-hak sebagai seorang istri dan perempuan.
Saya heran melihat banyaknya perempuan dikota kota besar ditingkat kedudukan tertentu (yang kedudukan suami mereka mencukupi atau malahan dalam kebendaaan dan status social), yang jika kita katakana pada mereka bahwa perempuan Indonesia harus berjuang terus untuk mendapatkan kedudukan dan hak –hak yang benar-benar sama dengan lelki,memperlihatkan sikap sudah puas sendiri.Karena mereka telah dapat hidup layak,malahan ada yang hidup berkelebihan, mereka tidak lagi dapat melihat bahwa masi puluhan juta perempuan Indonesia yang masih terikat dalam pembatasan-pembatasan kedudukan dan peran tradisoanal yang diterapkan akibat seks mereka selama ini.lebih dari itu juga masih banyak yang belum sadar,bahwa keadaan seperti ini merupakan satu ketidakadilan yang harus dihapuskan.
WOMAN,YOU CAN DO IT!!
Crita'na bguz, i like it. . .
BalasHapusyeaay..artikel yang menarik..
BalasHapusgood job.
BalasHapuslanjutkan!!!!!!!
bGuszzzz euy....
BalasHapus